Langsung ke konten utama

Patung "Bertautan"

Malam ini hujan turun lagi, nanana nananan nana nanana nanaa (lupa lirik). Oke kita dangduta broooook tek dung dung jlesss tek dung dung jlesss #gila
Maklum lah beberapa minggu ini pikiran lagi suntuk karena urusan tesis dan tetek bengek lainnya. Untuk ngilangin jenuh akhirnya gw random nyepeda malem2 menuju kearah selatan. Dengan baju kaos putih dan memasang seperangkat headset ber lagu sakitnya tu di sini, gw mulai ngontel sepeda kebo gw sambil joget2. Tujuan utama gw malam ini adalah minum minuman anak muda di kawasan Malioboro. "wedang Ronde" 
"Kreeeeeeoookkk petok petok kukuruyuuk pok pok pok" Jogja malam hari yang lagi agak gerimis dan dialuni suara ajib pengamen membuat perut ini lapar. Akhirnya sepedaku pun berenti untuk puaskan perut nya dgn nasi kucing di KR ato (kdaulatan rakyat). Yah sepedaku yang berhenti buat makan, tapi aku tetap bergerak menuju malioboro #krik.
Di titik 0 km malioboro terdapat satu patung yg cukup menarik. Judulnya patung itu "bertautan". Berbentuk tiga gajah yang sedang berjalan bertautan satu sama lain patung karya Dunadi itu merupakan perpaduan antara seni tiga dimensi dan seni 2 dimensi (lukis lukisan di tubuh patung).
Patung itu seolah mematahkan mematahkan mitos yg beredar dalam dunia persenian yg menyatakan "karya seni itu sakral, hanya boleh dilihat dan di foto tapi g boleh di sentuh".untuk mematahkan mitos tersebut patug bertautan g hanya bole di sentuh tapi juga bebas untuk di corat Coret.

Postingan populer dari blog ini

Main ke Dieng

Tulisan dieng hehehe Apa yang kalian pikirkan bila mendengar kata Dieng?? Dingin?? ya benar, Telaga warna?? ya itu pun benar hmmmmm....., gas beracun . yah sayangnya itu juga benar, tapi jangan takut jangan khawatir, justru inilah istimewanya Dieng. Kalau di analogikan yaa tak ada mawar yang tak berduri. " ada tuh........"  haeeee oke Sekarang ku mau cerita tentang perjalanan kami (saya dan dwi) menuju Dieng.... dug dug dug dug besssssssss........... (ceritanya ada sound effectnya :) ) Ngintip Telaga warna Perjalanan kami tidaklah mudah, Kami dari Jogja menuju Dieng menggunakan sepeda motor matic. dan si Dwiyanti kusumawardaniiih ( nama sengaja disamarkan)  itu dengan menyebalkannya membawa barang yang super duper banyak...

Perjalanan Ke Solo lalu Sangiran

Kita di ring of firee... Nenek moyang ku dan kini aku Hmmm bagaimana pak tesis saya,...  With lucy Neng Setasiun balapan kuto solo jadi kenangaaan kowe karo akuuuuu uuuuu janjimuuuuu ... udah lupa ahahaha Kayaknya foto fotoku dah g masuk solo deh, hmmm.,,, lebih tepatnya ku lagi poto2 di museum sangiran. Di museum museum ini banyak terdapat koleksi koleksi lucuuu..., ada si lucy ada gimana cara para arkeolog ngegali fosil fosil, ada banyak deh Jujur si ku dari dulu memang susah sekali belajar tenang sejarah, Jadi jangan terlalu heran kalo ku g begitu hapal ini fosil apa lah ini tulang apa lah. dah cukup segitu aja Oia, Foto ini di ambil oleh Asti 2014, thx yaaa

Puncak Prau Dieng bag 1

Pemandangan dekat Pos 2 Jalur Patak Banteng Prau Dieng Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mencoba mendaki gunung bersama ke empat teman saya yang keren gila hahaha... Pendakian Puncak Prau Dieng Pendakian pertama saya di awal bulan Juni. Ada dua jalur yang biasa di gunakan untuk para pendaki untuk mencapai puncak prau, salah satunya adalah jalur pendakian patak banteng. Oke dari Jogja saya bersama temen2 naik travel ke wonosobo dgn ongkos sekitar 50rb ato berapa gtu, udah rada lupa. maklum lah suda tua. Sesampai di Wonosobo kami naik bus kecil kearah Dieng, ongkosnya 10rb, tapi kadang kadang kalo kita clingak clinguk kayak org ilang kita bakal dikasi tarip 15rb, jadi yaaaa usahakan kalo klian udah sering bolak balik dieng dan kasi uang pas. Sebagai pendaki pemula saya pun mulai cengar cengir liat banyak pendaki pendaki keren dgn penuh keringat bawa tas gede habis turun gunung dgn kerennya. dalam hati gw bilang " gueeeeeh bakal sekeren itu nantinya h...