Malam ini hujan turun lagi, nanana nananan nana nanana nanaa (lupa lirik). Oke kita dangduta broooook tek dung dung jlesss tek dung dung jlesss #gila
Maklum lah beberapa minggu ini pikiran lagi suntuk karena urusan tesis dan tetek bengek lainnya. Untuk ngilangin jenuh akhirnya gw random nyepeda malem2 menuju kearah selatan. Dengan baju kaos putih dan memasang seperangkat headset ber lagu sakitnya tu di sini, gw mulai ngontel sepeda kebo gw sambil joget2. Tujuan utama gw malam ini adalah minum minuman anak muda di kawasan Malioboro. "wedang Ronde"
"Kreeeeeeoookkk petok petok kukuruyuuk pok pok pok" Jogja malam hari yang lagi agak gerimis dan dialuni suara ajib pengamen membuat perut ini lapar. Akhirnya sepedaku pun berenti untuk puaskan perut nya dgn nasi kucing di KR ato (kdaulatan rakyat). Yah sepedaku yang berhenti buat makan, tapi aku tetap bergerak menuju malioboro #krik.
Di titik 0 km malioboro terdapat satu patung yg cukup menarik. Judulnya patung itu "bertautan". Berbentuk tiga gajah yang sedang berjalan bertautan satu sama lain patung karya Dunadi itu merupakan perpaduan antara seni tiga dimensi dan seni 2 dimensi (lukis lukisan di tubuh patung).
Patung itu seolah mematahkan mematahkan mitos yg beredar dalam dunia persenian yg menyatakan "karya seni itu sakral, hanya boleh dilihat dan di foto tapi g boleh di sentuh".untuk mematahkan mitos tersebut patug bertautan g hanya bole di sentuh tapi juga bebas untuk di corat Coret.